Keesokan
harinya gue nemuin Rei di kampus. Kebetulan hari itu kami sekelas.
“Eh,
katanya lo ngajak gue buat tampil malem puncak ya?”, tanya gue.
“Iya, lo
mau ga?”, kata Rei acuh tak acuh sambil mencatat.
“Boleh,
deh”, jawab gue pendek.
“Entar lo
yang vokal, gue megang bass, Yuta gitar. Tinggal nyari drummer aja, sih”, jawab
Rei sambil sesekali memperhatikan dosen sambil mencatat.
“Sip
sip.. Ntar SMS aja kalo mau latihan”, kata gue sambil menyandarkan punggung di
bangku. Sambil menghela nafas, gue mikir gimana caranya biar pas hari H gue
bisa gandeng Sisri. Apa gue tembak pas di atas panggung aja? Gak mungkin! Mau
ditaruh dimana muka gue kalo ditolak? Ato mungkin gue tembak sebelum hari H
jadi pas manggung uda gandeng cewek. ‘kan sip tuh.
“Entar
sore latihan ya di studio deket bengkel itu lho”, kata Rei tiba-tiba
membuyarkan lamunan gue.
“Hah? Oke
dah..”, jawab gue setengah kaget.
Sore hari
itu gue bersiap buat latihan. Pake baju apa ya? Ah yang simpel aja deh, batin
gue. Gue ngambil kaos hitam dan celana jeans biru terang dari gantungan baju.
Setelah berpakaian lengkap gue pun menyalakan motor dan bergegas ke TKP.
Dalam
waktu sepuluh menit gue tiba di studio. Studio band tersebut emang ga terlalu
jauh dari kosan gue. Gue berhenti sejenak untuk mengamati sekeliling. Ini sih
garasi rumah mewah yang dijadiin studio band. Letaknya agak menjorok ke dalam
garasi. Persis di depan pintu garasi terdapat dua buah kandang besar yang
masing-masing dihuni oleh dua ekor anjing. Satu diantaranya berjenis Siberian Husky yang berwarna hitam
putih, dan kandang lainnya dihuni seekor anjing sebesar anak sapi. Jenisnya St. Bernard kalo ga salah. Studionya
terletak persis di belakang ruang operator. Di depan pintu masuk studio ada
kolam ikan kecil yang berisi berbagai macam ikan hias.
“Ayo
masuk! Ngapain bengong di situ?”, seru Rei dari dekat ruang operator. Rupanya
sudah berkumpul semua. Ada Yuta, Rei, dan Kribo. Gue pun bergegas menghampiri
mereka.
“Oh
drummernya si Kribo?”, tanya gue sambil cengengesan.
“Iya, gue
baru tadi siang diSMS Rei”, jawab Kribo santai.
“Yuk,
masuk”, ajak Rei. Kami berempat pun masuk ke studio.
Latihan
pertama emang susah. Kami semua harus menekan ego masing-masing biar kompak. Bayangin
aja, Yuta main dengan gayanya sendiri. Apalagi Rei juga ga mau kalah sementara
gue sama Kribo cuma bisa bengong.
“Wah,
parah juga kalo gini terus”, celetuk Rei sambil menyeruput es kopinya. Sehabis
latihan kami nongkrong bentar di burjo dekat kampus untuk melepas lelah.
“Latihan
berikutnya kau ngiringin gitarku lah, Rei”, kata Yuta.
“Jangan
bass masuk duluan, nanti ga nyambung”, lanjutnya dengan nada agak menggurui.
Rei cuma
bisa diem, ga menanggapi kata-kata Yuta. Wah, kalo gini terus apa bisa kami
tampil maksimal nantinya?
To Be
Continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar