Halaman

Cerita dalam blog ini bertujuan sebagai hiburan semata,dan tidak ada unsur menjelekan atau memanipulasi asal muasal tokoh pemeran utama dari cerita ini, dan jika ada kesamaan baik karakter atau lain sebagainya dan Jika ada hal yang menyinggung atau di anggap berlebihan dalam menempatkan karakter tokoh utama dalam cerita ini hanyalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja

Selasa, 27 September 2011

Enji Musafir Playboy #5


Keesokan harinya gue nemuin Rei di kampus. Kebetulan hari itu kami sekelas.
“Eh, katanya lo ngajak gue buat tampil malem puncak ya?”, tanya gue.
“Iya, lo mau ga?”, kata Rei acuh tak acuh sambil mencatat.
“Boleh, deh”, jawab gue pendek.
“Entar lo yang vokal, gue megang bass, Yuta gitar. Tinggal nyari drummer aja, sih”, jawab Rei sambil sesekali memperhatikan dosen sambil mencatat.
“Sip sip.. Ntar SMS aja kalo mau latihan”, kata gue sambil menyandarkan punggung di bangku. Sambil menghela nafas, gue mikir gimana caranya biar pas hari H gue bisa gandeng Sisri. Apa gue tembak pas di atas panggung aja? Gak mungkin! Mau ditaruh dimana muka gue kalo ditolak? Ato mungkin gue tembak sebelum hari H jadi pas manggung uda gandeng cewek. ‘kan sip tuh.
“Entar sore latihan ya di studio deket bengkel itu lho”, kata Rei tiba-tiba membuyarkan lamunan gue.
“Hah? Oke dah..”, jawab gue setengah kaget.
Sore hari itu gue bersiap buat latihan. Pake baju apa ya? Ah yang simpel aja deh, batin gue. Gue ngambil kaos hitam dan celana jeans biru terang dari gantungan baju. Setelah berpakaian lengkap gue pun menyalakan motor dan bergegas ke TKP.
Dalam waktu sepuluh menit gue tiba di studio. Studio band tersebut emang ga terlalu jauh dari kosan gue. Gue berhenti sejenak untuk mengamati sekeliling. Ini sih garasi rumah mewah yang dijadiin studio band. Letaknya agak menjorok ke dalam garasi. Persis di depan pintu garasi terdapat dua buah kandang besar yang masing-masing dihuni oleh dua ekor anjing. Satu diantaranya berjenis Siberian Husky yang berwarna hitam putih, dan kandang lainnya dihuni seekor anjing sebesar anak sapi. Jenisnya St. Bernard kalo ga salah. Studionya terletak persis di belakang ruang operator. Di depan pintu masuk studio ada kolam ikan kecil yang berisi berbagai macam ikan hias.
“Ayo masuk! Ngapain bengong di situ?”, seru Rei dari dekat ruang operator. Rupanya sudah berkumpul semua. Ada Yuta, Rei, dan Kribo. Gue pun bergegas menghampiri mereka.
“Oh drummernya si Kribo?”, tanya gue sambil cengengesan.
“Iya, gue baru tadi siang diSMS Rei”, jawab Kribo santai.
“Yuk, masuk”, ajak Rei. Kami berempat pun masuk ke studio.
Latihan pertama emang susah. Kami semua harus menekan ego masing-masing biar kompak. Bayangin aja, Yuta main dengan gayanya sendiri. Apalagi Rei juga ga mau kalah sementara gue sama Kribo cuma bisa bengong.
“Wah, parah juga kalo gini terus”, celetuk Rei sambil menyeruput es kopinya. Sehabis latihan kami nongkrong bentar di burjo dekat kampus untuk melepas lelah.
“Latihan berikutnya kau ngiringin gitarku lah, Rei”, kata Yuta.
“Jangan bass masuk duluan, nanti ga nyambung”, lanjutnya dengan nada agak menggurui.
Rei cuma bisa diem, ga menanggapi kata-kata Yuta. Wah, kalo gini terus apa bisa kami tampil maksimal nantinya?

To Be Continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar