Halaman

Cerita dalam blog ini bertujuan sebagai hiburan semata,dan tidak ada unsur menjelekan atau memanipulasi asal muasal tokoh pemeran utama dari cerita ini, dan jika ada kesamaan baik karakter atau lain sebagainya dan Jika ada hal yang menyinggung atau di anggap berlebihan dalam menempatkan karakter tokoh utama dalam cerita ini hanyalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja

Minggu, 25 September 2011

Enji Musafir Playboy #4


Di tengah kebingungan gue tiba-tiba seseorang memanggil nama gue, “Ji! Enji!”. Gue menoleh mencari tahu dari mana asalnya suara itu. Ternyata Sisri. Sambil sedikit terengah dia mengulurkan tangan, menyerahkan kunci motor gue.
“Ini punyamu, kan? Tadi jatuh pas kamu jalan. Kamu jalannya cepet banget sih”, katanya sambil mengatur nafas.
“Oh, iya.. M-makasih..”, jawab gue terbata-bata.
“Makanya lain kali jangan ceroboh. Udah ya”, sahutnya sambil lalu.
Selama beberapa detik gue masih berdiri terdiam. Gue masih belum bisa mencerna karena kejadiannya begitu cepat. Perlahan gue jalan menuju tempat di mana motor gue terparkir dan segera melaju menuju kos. Setibanya di kos yang kebetulan ga terlalu jauh dari kampus, gue langsung membuka kunci kamar dan merebahkan diri di atas kasur lalu mulai memikirkan kejadian tadi dan tak lama gue pun tertidur pulas.
Getaran hape gue yang super brisik membangunkan gue dari tidur siang. Sambil ngucek mata dan setengah sadar, gue meraba meja di samping kasur dan menemukan sumber getaran itu. “Kamu dimana?”, begitu isi SMS nya. Oh, dari Aide ternyata. Dengan agak malas gue bales SMS tadi, “Di kos bro...”, dan kembali tertidur.
“BRAK..!!”, pintu kamar gue terbuka dengan suara keras dan seseorang yang menenteng helm dan mengenakan jaket menyerbu masuk ke dalam. Selama beberapa detik orang ini terdiam memandangi seisi kamar gue yang berantakan. Ketika pandangannya tertuju pada kasur, dia menemukan seseorang yang tengah jongkok di atas kasur. Matanya membesar, rambutnya acak-acakan, wajah bodohnya menunjukkan ekspresi kaget campur bingung. Orang yang lagi jongkok itu tak lain dan tak bukan adalah gue sendiri.
“Huahahaha..Ngapain kamu?”, tanya Aide sambil terkekeh.
“Kaget, dodol!”, jawab gue sambil membetulkan posisi.
“Eh, tadi aku liat di papan pengumuman ada berita tentang even fakultas. Ada kompetisi olah raga antar anak Psikologi kampus kita”, kata Aide sambil nyari posisi yang enak buat duduk karena nyaris tak ada ruang kosong di kamar gue.
“Oh, trus?”, tanya gue setengah penasaran dengan lanjutannya.
“Kamu tadi diajak Rei ikut ngisi acara malam puncak. Itu lho Rei temen sekelas kita. Aku juga diajak tapi males”, lanjutnya.
“Emangnya ngisi acara yang gimana?”, tanya gue lagi.
“Rei tadi ngajak main band. Katanya dia juga mau ngajak temen kita, si Yuta”, katanya sambil menyalakan sebatang rokok. “Mau ga?”, dia nyodorin rokoknya. Sambil berpikir gue mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Mungkin ini momen yang tepat buat gue dan Sisri. Menurut anda bagaimana?

To be Continued...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar