Di tengah
kebingungan gue tiba-tiba seseorang memanggil nama gue, “Ji! Enji!”. Gue
menoleh mencari tahu dari mana asalnya suara itu. Ternyata Sisri. Sambil
sedikit terengah dia mengulurkan tangan, menyerahkan kunci motor gue.
“Ini
punyamu, kan? Tadi jatuh pas kamu jalan. Kamu jalannya cepet banget sih”,
katanya sambil mengatur nafas.
“Oh, iya..
M-makasih..”, jawab gue terbata-bata.
“Makanya
lain kali jangan ceroboh. Udah ya”, sahutnya sambil lalu.
Selama
beberapa detik gue masih berdiri terdiam. Gue masih belum bisa mencerna karena
kejadiannya begitu cepat. Perlahan gue jalan menuju tempat di mana motor gue
terparkir dan segera melaju menuju kos. Setibanya di kos yang kebetulan ga
terlalu jauh dari kampus, gue langsung membuka kunci kamar dan merebahkan diri
di atas kasur lalu mulai memikirkan kejadian tadi dan tak lama gue pun tertidur
pulas.
Getaran
hape gue yang super brisik membangunkan gue dari tidur siang. Sambil ngucek
mata dan setengah sadar, gue meraba meja di samping kasur dan menemukan sumber
getaran itu. “Kamu dimana?”, begitu isi SMS nya. Oh, dari Aide ternyata. Dengan
agak malas gue bales SMS tadi, “Di kos bro...”, dan kembali tertidur.
“BRAK..!!”,
pintu kamar gue terbuka dengan suara keras dan seseorang yang menenteng helm
dan mengenakan jaket menyerbu masuk ke dalam. Selama beberapa detik orang ini
terdiam memandangi seisi kamar gue yang berantakan. Ketika pandangannya tertuju
pada kasur, dia menemukan seseorang yang tengah jongkok di atas kasur. Matanya
membesar, rambutnya acak-acakan, wajah bodohnya menunjukkan ekspresi kaget
campur bingung. Orang yang lagi jongkok itu tak lain dan tak bukan adalah gue
sendiri.
“Huahahaha..Ngapain
kamu?”, tanya Aide sambil terkekeh.
“Kaget,
dodol!”, jawab gue sambil membetulkan posisi.
“Eh, tadi
aku liat di papan pengumuman ada berita tentang even fakultas. Ada kompetisi
olah raga antar anak Psikologi kampus kita”, kata Aide sambil nyari posisi yang
enak buat duduk karena nyaris tak ada ruang kosong di kamar gue.
“Oh,
trus?”, tanya gue setengah penasaran dengan lanjutannya.
“Kamu
tadi diajak Rei ikut ngisi acara malam puncak. Itu lho Rei temen sekelas kita.
Aku juga diajak tapi males”, lanjutnya.
“Emangnya
ngisi acara yang gimana?”, tanya gue lagi.
“Rei tadi
ngajak main band. Katanya dia juga mau ngajak temen kita, si Yuta”, katanya
sambil menyalakan sebatang rokok. “Mau ga?”, dia nyodorin rokoknya. Sambil
berpikir gue mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Mungkin ini momen yang
tepat buat gue dan Sisri. Menurut anda bagaimana?
To be
Continued...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar