Halaman

Cerita dalam blog ini bertujuan sebagai hiburan semata,dan tidak ada unsur menjelekan atau memanipulasi asal muasal tokoh pemeran utama dari cerita ini, dan jika ada kesamaan baik karakter atau lain sebagainya dan Jika ada hal yang menyinggung atau di anggap berlebihan dalam menempatkan karakter tokoh utama dalam cerita ini hanyalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja

Selasa, 04 Oktober 2011

Enji Musafir Playboy #6

“Jangan mulai, deh. Kribo, ketukannya pelanin dikit”, kata Rei.
“Enji, suara lo bisa lebih tinggi gak?”, lanjutnya.
“Mentok! Lagunya jangan yang ini, lah. Ato kuncinya rendahin lagi”, protes gue. Tapi toh Rei ga nanggepin protes gue.
Latihan rutin siang itu itungannya masih berantakan tapi pelan-pelan kami uda bisa mengendalikan ego masing-masing. Kami pun pulang ke kos masing-masing dengan wajah ditekuk. Sesampainya di kos, gue langsung ditegur temen kos gara-gara pulang dengan muka lesu.
“Woi, Ji kenapa kamu?”, sapa Wisnu. Wisnu adalah temen kos gue. Orangnya agak pendek, rambutnya lurus lebat, bermata sipit, dan kulitnya kecoklatan. Sebenernya orangnya cuek tapi hari itu dia keliatan lagi girang. Kayaknya sih salah minum obat.
“Gak apa kok, cuma capek habis latihan”, jawab gue dengan suara serak.
“Ciee..yang jadi vokalis....”, ledeknya.
Sambil tersenyum kecut gue berlalu menuju kamar dan merebahkan diri di kasur. Capeknya hari ini. Kalo aja gue punya cewek yang bisa mijitin gue kalo lagi gini. Seperti ada yang menyalakan lampu di kepala gue, dengan gerakan yang tiba-tiba gue ngerogoh hape di kantong dan mulai ngetik SMS. “Hai, Sri lagi ngapain? Abang kangen, nih”. Kemudian gue menaruh hape sambil senyum senyum ga jelas. Ga berapa lama hape gue bergetar. Sebuah pesan singkat dengan nama Sisri terpampang jelas di layar. Tanpa buang waktu, gue mengambil hape dan membuka isi SMSnya. “Apaan, sih? Norak tau”. Puas ngisengin Sisri gue pun keluar kamar untuk mandi.
“Tumben mandi”, celetuk Wisnu. Kebetulan kami papasan waktu gue keluar kamar mandi.
“Biar seger. Mau belajar, nih. Besok ujian”, jawab gue sambil ngeringin rambut pake handuk.
“Bentar lagi mau makan, nih. Ikut nyari makan ga?”, tanya Wisnu.
“Nitip aja deh. Tempe penyet. Ya? ya? Ayolah...”, bujuk gue sambil masang tampang memohon.
“Nah, mulai. Kalo uda muka kayak gini mulai nyebelin. Sini duitnya”, jawab Wisnu setengah jengkel.
“Asiiik...”, kata gue sambil bergegas masuk kamar. Tak lama kemudian keluar lagi membawa dua lembar uang lima ribuan.
“Nih, sambelnya yang bawang ya”, pesen gue sambil ngasih duitnya ke Wisnu.
“Iya, iya. Bawel”, jawab Wisnu jengkel.
Sesudah itu Wisnu segera pergi dan gue pun masuk ke kamar dan mengobrak abrik isi tas gue untuk nyari bahan ujian besok. Nah, ini dia Psikologi Komunikasi. Gue pun mulai membaca hand out dan catatan seadanya. Ketika gue tengah tenggelam dalam Teori Behavior dan Hierarki Kebutuhan Maslow, Wisnu muncul di depan pintu kamar dan membawa bungkusan.
“Nih, tempe penyetnya”, kata Wisnu sambil menyerahkan bungkusan itu dan uang kembalian.
“Sip, makasih ya”, sahut gue.
“Yo, sama-sama”, jawabnya sambil lalu.
Tanpa basa basi, gue membuka bungkusan itu dan menghabiskan isinya. Emang kalo lagi laper tempe pun terasa enak. Usai menyantap habis makan malam tersebut, gue melanjutkan belajar yang tadi sempet ketunda. Setengah jam berlalu, gue pun tertidur pulas kekenyangan.

To be Continued...

READ MORE - Enji Musafir Playboy #6

Selasa, 27 September 2011

Enji Musafir Playboy #5


Keesokan harinya gue nemuin Rei di kampus. Kebetulan hari itu kami sekelas.
“Eh, katanya lo ngajak gue buat tampil malem puncak ya?”, tanya gue.
“Iya, lo mau ga?”, kata Rei acuh tak acuh sambil mencatat.
“Boleh, deh”, jawab gue pendek.
“Entar lo yang vokal, gue megang bass, Yuta gitar. Tinggal nyari drummer aja, sih”, jawab Rei sambil sesekali memperhatikan dosen sambil mencatat.
“Sip sip.. Ntar SMS aja kalo mau latihan”, kata gue sambil menyandarkan punggung di bangku. Sambil menghela nafas, gue mikir gimana caranya biar pas hari H gue bisa gandeng Sisri. Apa gue tembak pas di atas panggung aja? Gak mungkin! Mau ditaruh dimana muka gue kalo ditolak? Ato mungkin gue tembak sebelum hari H jadi pas manggung uda gandeng cewek. ‘kan sip tuh.
“Entar sore latihan ya di studio deket bengkel itu lho”, kata Rei tiba-tiba membuyarkan lamunan gue.
“Hah? Oke dah..”, jawab gue setengah kaget.
Sore hari itu gue bersiap buat latihan. Pake baju apa ya? Ah yang simpel aja deh, batin gue. Gue ngambil kaos hitam dan celana jeans biru terang dari gantungan baju. Setelah berpakaian lengkap gue pun menyalakan motor dan bergegas ke TKP.
Dalam waktu sepuluh menit gue tiba di studio. Studio band tersebut emang ga terlalu jauh dari kosan gue. Gue berhenti sejenak untuk mengamati sekeliling. Ini sih garasi rumah mewah yang dijadiin studio band. Letaknya agak menjorok ke dalam garasi. Persis di depan pintu garasi terdapat dua buah kandang besar yang masing-masing dihuni oleh dua ekor anjing. Satu diantaranya berjenis Siberian Husky yang berwarna hitam putih, dan kandang lainnya dihuni seekor anjing sebesar anak sapi. Jenisnya St. Bernard kalo ga salah. Studionya terletak persis di belakang ruang operator. Di depan pintu masuk studio ada kolam ikan kecil yang berisi berbagai macam ikan hias.
“Ayo masuk! Ngapain bengong di situ?”, seru Rei dari dekat ruang operator. Rupanya sudah berkumpul semua. Ada Yuta, Rei, dan Kribo. Gue pun bergegas menghampiri mereka.
“Oh drummernya si Kribo?”, tanya gue sambil cengengesan.
“Iya, gue baru tadi siang diSMS Rei”, jawab Kribo santai.
“Yuk, masuk”, ajak Rei. Kami berempat pun masuk ke studio.
Latihan pertama emang susah. Kami semua harus menekan ego masing-masing biar kompak. Bayangin aja, Yuta main dengan gayanya sendiri. Apalagi Rei juga ga mau kalah sementara gue sama Kribo cuma bisa bengong.
“Wah, parah juga kalo gini terus”, celetuk Rei sambil menyeruput es kopinya. Sehabis latihan kami nongkrong bentar di burjo dekat kampus untuk melepas lelah.
“Latihan berikutnya kau ngiringin gitarku lah, Rei”, kata Yuta.
“Jangan bass masuk duluan, nanti ga nyambung”, lanjutnya dengan nada agak menggurui.
Rei cuma bisa diem, ga menanggapi kata-kata Yuta. Wah, kalo gini terus apa bisa kami tampil maksimal nantinya?

To Be Continued...

READ MORE - Enji Musafir Playboy #5

Minggu, 25 September 2011

Enji Musafir Playboy #4


Di tengah kebingungan gue tiba-tiba seseorang memanggil nama gue, “Ji! Enji!”. Gue menoleh mencari tahu dari mana asalnya suara itu. Ternyata Sisri. Sambil sedikit terengah dia mengulurkan tangan, menyerahkan kunci motor gue.
“Ini punyamu, kan? Tadi jatuh pas kamu jalan. Kamu jalannya cepet banget sih”, katanya sambil mengatur nafas.
“Oh, iya.. M-makasih..”, jawab gue terbata-bata.
“Makanya lain kali jangan ceroboh. Udah ya”, sahutnya sambil lalu.
Selama beberapa detik gue masih berdiri terdiam. Gue masih belum bisa mencerna karena kejadiannya begitu cepat. Perlahan gue jalan menuju tempat di mana motor gue terparkir dan segera melaju menuju kos. Setibanya di kos yang kebetulan ga terlalu jauh dari kampus, gue langsung membuka kunci kamar dan merebahkan diri di atas kasur lalu mulai memikirkan kejadian tadi dan tak lama gue pun tertidur pulas.
Getaran hape gue yang super brisik membangunkan gue dari tidur siang. Sambil ngucek mata dan setengah sadar, gue meraba meja di samping kasur dan menemukan sumber getaran itu. “Kamu dimana?”, begitu isi SMS nya. Oh, dari Aide ternyata. Dengan agak malas gue bales SMS tadi, “Di kos bro...”, dan kembali tertidur.
“BRAK..!!”, pintu kamar gue terbuka dengan suara keras dan seseorang yang menenteng helm dan mengenakan jaket menyerbu masuk ke dalam. Selama beberapa detik orang ini terdiam memandangi seisi kamar gue yang berantakan. Ketika pandangannya tertuju pada kasur, dia menemukan seseorang yang tengah jongkok di atas kasur. Matanya membesar, rambutnya acak-acakan, wajah bodohnya menunjukkan ekspresi kaget campur bingung. Orang yang lagi jongkok itu tak lain dan tak bukan adalah gue sendiri.
“Huahahaha..Ngapain kamu?”, tanya Aide sambil terkekeh.
“Kaget, dodol!”, jawab gue sambil membetulkan posisi.
“Eh, tadi aku liat di papan pengumuman ada berita tentang even fakultas. Ada kompetisi olah raga antar anak Psikologi kampus kita”, kata Aide sambil nyari posisi yang enak buat duduk karena nyaris tak ada ruang kosong di kamar gue.
“Oh, trus?”, tanya gue setengah penasaran dengan lanjutannya.
“Kamu tadi diajak Rei ikut ngisi acara malam puncak. Itu lho Rei temen sekelas kita. Aku juga diajak tapi males”, lanjutnya.
“Emangnya ngisi acara yang gimana?”, tanya gue lagi.
“Rei tadi ngajak main band. Katanya dia juga mau ngajak temen kita, si Yuta”, katanya sambil menyalakan sebatang rokok. “Mau ga?”, dia nyodorin rokoknya. Sambil berpikir gue mengambil sebatang rokok dan menyalakannya. Mungkin ini momen yang tepat buat gue dan Sisri. Menurut anda bagaimana?

To be Continued...
READ MORE - Enji Musafir Playboy #4

Selasa, 20 September 2011

Enji Musafir Playboy #3


Seakan dalam beberapa detik jantung gue berhenti berdetak. Sisri ternyata berhenti dan berdiri tepat di samping meja kami. Gue bertanya-tanya dalam hati, aduh gue mau diapain?
“Kamu Enji ya? Tadi temenmu ada yang nyariin, tuh”, kata Sisri sambil tersenyum.
Ya, oloh senyumannya bener-bener bikin gue meleleh. Rasanya detik itu juga gue pengen nyemplung ke kolam ikan yang ada di tengah kantin.
“Woi, ditanyain tuh!”, seru Aide membuyarkan lamunan gue.
“Hah? Oh, ya siapa yang nyariin?”, tanya gue sambil berusaha stay cool di depan Sisri.
“Hmm, namanya tuh Jo. Kamu disuruh kumpul kelompok tu di hall”, jawab Sisri masih sambil tersenyum.
“Oh, oke nanti aku kesana deh”, sahut gue.
“Oke, aku duluan ya, dah..”, kata Sisri sambil lalu.
Sampai Sisri menghilang di balik tangga, mata gue ga berhenti mengagumi seluruh tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung sepatunya.
“Otakmu mesum”, kata Aide.
“Sial, normal dong. Daripada kamu maho. Masa liat cewe secakep itu ga tergerak hatinya”, sahut gue rada jengkel.
“Wets, cakep itu relatif. Jelek itu mutlak. Seleramu sih yang begituan”, kata Aide ga mau kalah.
“Iya, deh iya”, kata gue ngalah. Biar cepet.
Kami mengobrol cukup lama di kantin. Puntung rokok pun udah cukup banyak berserakan di lantai sampai akhirnya gue inget kalo gue dicariin Jo buat bikin tugas. Gue pun pamitan sama Aide dan bergegas ke hall. Hape di kantong celana gue bergetar, tanda SMS masuk. Wah, sms dari Jo, bunyinya kayak gini, kemana aja kamu? Dari tadi ditungguin ga nongol-nongol. Udah pada bubar. Wah langsung ga enak jadinya. Bukan masalah nilai tapi masalahnya ini kan kerja kelompok. Emang dosen gila masa baru awal-awal masuk kuliah uda dikasi tugas, kata gue dalam hati. Gue langsung ke parkiran motor, mau gimana lagi? Udah pada bubar gini. Gue merogoh kantong celana dan..
“Matilah. Mana kunci motor gue? Perasaan gue masukin sini tadi?”, kata gue panik. Habislah. Mana motor kreditan belum lunas masa kuncinya uda ilang?

To be Continued..
READ MORE - Enji Musafir Playboy #3

Senin, 19 September 2011

Enji Musafir Playboy #2


      Aduh gimana dong, pikir gue panik. Gue celingak celinguk dengan tampang melas meminta pertolongan. Jo, temen sebelah gue cuma angkat bahu, tanda ga mudeng. Dengan panik gue menarik buku yang ada di meja Jo dan mulai membolak balik halamannya dengan cepat setengah berharap ada tulisan yang berbunyi, ‘Ini dia jawabannya!’.”Nah, ini dia contoh mahasiswa yang ga pernah memperhatikan kuliah. Ayo siapa yang bisa jawab?”, dosen itu berkata dengan nada mengejek. Mukanya yang culun tersenyum jahat sambil memamerkan gigi kuningnya. Satu jam terakhir kuliah itu rasanya kayak seharian. Gue terus melototin tu dosen. Bukan karena kuliahnya yang ngaujubilah ‘asiknya’ tapi gue dongkol banget sama mukanya. Rasanya pengen gue lempar sendal.
Akhirnya kuliah yang super duper ngebosenin itu berakhir dengan dengungan seisi kelas yang menunjukkan rasa lega. Tanpa buang waktu lagi gue langsung menyambar tas dan bergegas keluar. “Mau kemana, Ji?”, tiba-tiba Aide nongol di belakang gue. “Kantin”, jawab gue pendek. “Yok..”, sahutnya. Kamipun berjalan menuruni tangga dan tidak lama kemudian tiba di kantin. “Jo, kopi satu yang brownies ya”, kata gue sama penjaga koperasi yang kebetulan namanya Bejo. “Kamu pesen apa, De?”, tanya gue. “Sama, lah”, jawabnya. “Siap, pak!”, jawab Bejo yang seakan dapat komando dari komandannya. Kamipun memilih tempat duduk yang gak jauh dari Kopma. Kebetulan waktu itu kantin masih sepi. “Payah, tadi kenapa kamu ga bantuin aku sih?”, tanya gue setengah jengkel sama Aide. “Lha, wong aku juga gak ngerti kok”, jawab Aide dengan muka yang sedikit menunjukkan rasa menyesal. “Sial juga tu si dosen. Mukaku mau ditaruh mana coba?”, kata gue dengan jengkel. Aide cuma manggut-manggut seakan kepalanya mau lepas.
Ketika obrolan kami makin liar dan tak terkendali, tiba-tiba dari arah lorong menuju kantin sesosok mahasiswi yang bikin gue mati gaya berjalan menuju kantin. Rambutnya yang ikal, nampak kecoklatan terkena matahari. Matanya yang bulat menyipit, mungkin merasa silau karena sinar matahari, gue pikir gitu karena emang hari ini panas terik. Bibirnya yang tipis tersenyum kecil kepada kawannya. Hari itu dia mengenakan kaos hijau, celana jeans biru dongker dan sepatu kets. Dengan langkah yang sedikit terburu-buru dia menuju koperasi. “Woi, ngapain kamu?”, suara Aide merusak fantasi gue yang udah kemana-mana. “Hah? Itu si Sisri..Cakep bener..Gila”, jawab gue tanpa menoleh. Secara ga diduga Sisri berjalan menuju meja yang kami tempati. Kebetulan emang ada dua kursi kosong di sebelah kami. Akankah dia duduk di situ?

To be Continued....
READ MORE - Enji Musafir Playboy #2

Minggu, 18 September 2011

Enji Musafir Playboy #1


Cerita ini berawal ketika gue memutuskan untuk mengadu nasib ke Jogja. Nyokap berpesan katanya, “Nak, jaga diri baik-baik. Tuntut ilmu setinggi mungkin dan jangan suka mainin cewek nanti kamu sendiri kena getahnya”. Setelah itu berangkatlah gue ke Jogja dengan bus ekonomi, biar murah gitu. Sesampainya di sana gue langsung melesat ke kos-kosan yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan langsung tertidur pulas.
Keesokan harinya, ketika ayam masih tertidur pulas, tiba-tiba pintu terbuka dengan bunyi keras. Sesosok anak muda yang masih menggunakan helm dan jaket menyerbu masuk ke dalam kamar. Pemuda ini tingginya hampir sama kayak gue tapi agak lebih kurus. “Ayo berangkat kampus!”, katanya. Nada bicaranya medhok khas Jogja. “Bentar, De mau mandi dulu.”. Dengan malas gue ngambil anduk dan melangkah ke kamar mandi. Sumpah, rasanya berat bener ni kaki. Tak lama kemudian gue keluar kamar mandi dan berpakaian lengkap. Aide menunggu di halaman kos sambil ngelapin motor. Sambil menghampiri Aide, gue ngomong dengan malas, “Ayo berangkat”. Sesampainya di kampus sikap malas itu hilang sekejap. “Tuh, Sisri lagi jalan. Beh, cakep bener tu liat aja bodinya kayak gitar listrik”. Aide cuma geleng-geleng dengerin sobatnya nyerocos gitu. “Kenapa mesti gitar listrik?”, tanyanya. “Soalnya kalo di deket dia gue kayak kesetrum gitu rasanya”, jawab gue asal.
Sesampainya di kelas, dengan semangat gue mengambil tempat duduk paling belakang. Kenapa mesti paling belakang? Soalnya biar bisa tidur di kelas. Menurut gue ini mata kuliah yang paling tidak menarik. Dosennya orang hukum dan selalu ngoceh soal pasal-pasal yang gue gak ngerti. Dengan harapan besar akan memimpikan Sisri, gue pun meletakkan kepala di meja dan mulai terlelap. Tiba-tiba suara menggelegar dari depan kelas yang bikin gue langsung duduk tegap kayak disetrum. “Yak! Itu yang di belakang, yang mirip Afgan tolong jelaskan tentang Pancasila sebagai ruang lingkup pendidikan kewarganegaraan meliputi apa saja?”, tanya pak dosen dengan nada agak jengkel karena setengah jam kuliahnya ternyata hampir semua mahasiswa pasang tampang ngantuk. Cuma beberapa orang yang duduk di bangku depan yang duduk tegak memperhatikan. Entah karena tertarik dengan omongan dosennya atau tertarik dengan gigi emasnya yang ternyata bukan emas melainkan kekuning-kuningan. Mampus gue, dari tadi kan gue tidur, pikir gue panik. Terus gimana dong?

To be Continued....
READ MORE - Enji Musafir Playboy #1

Sabtu, 17 September 2011

Enji Cowok Playboy Behind the Story


Thanks for :

Takako Hikari
Kira Kusanagi
Aide Hajime
Cewek Berambut Topi
dan sejumlah orang dari catatan hitam gue yang ga mungkin gue sebutin satu persatu karena telah memberi gue inspirasi untuk menulis.
READ MORE - Enji Cowok Playboy Behind the Story