Aduh gimana dong, pikir gue panik.
Gue celingak celinguk dengan tampang melas meminta pertolongan. Jo, temen
sebelah gue cuma angkat bahu, tanda ga mudeng. Dengan panik gue menarik buku
yang ada di meja Jo dan mulai membolak balik halamannya dengan cepat setengah
berharap ada tulisan yang berbunyi, ‘Ini dia jawabannya!’.”Nah, ini dia contoh
mahasiswa yang ga pernah memperhatikan kuliah. Ayo siapa yang bisa jawab?”, dosen
itu berkata dengan nada mengejek. Mukanya yang culun tersenyum jahat sambil
memamerkan gigi kuningnya. Satu jam terakhir kuliah itu rasanya kayak seharian.
Gue terus melototin tu dosen. Bukan karena kuliahnya yang ngaujubilah ‘asiknya’
tapi gue dongkol banget sama mukanya. Rasanya pengen gue lempar sendal.
Akhirnya
kuliah yang super duper ngebosenin itu berakhir dengan dengungan seisi kelas
yang menunjukkan rasa lega. Tanpa buang waktu lagi gue langsung menyambar tas
dan bergegas keluar. “Mau kemana, Ji?”, tiba-tiba Aide nongol di belakang gue. “Kantin”,
jawab gue pendek. “Yok..”, sahutnya. Kamipun berjalan menuruni tangga dan tidak
lama kemudian tiba di kantin. “Jo, kopi satu yang brownies ya”, kata gue sama
penjaga koperasi yang kebetulan namanya Bejo. “Kamu pesen apa, De?”, tanya gue.
“Sama, lah”, jawabnya. “Siap, pak!”, jawab Bejo yang seakan dapat komando dari
komandannya. Kamipun memilih tempat duduk yang gak jauh dari Kopma. Kebetulan waktu
itu kantin masih sepi. “Payah, tadi kenapa kamu ga bantuin aku sih?”, tanya gue
setengah jengkel sama Aide. “Lha, wong aku juga gak ngerti kok”, jawab Aide
dengan muka yang sedikit menunjukkan rasa menyesal. “Sial juga tu si dosen.
Mukaku mau ditaruh mana coba?”, kata gue dengan jengkel. Aide cuma
manggut-manggut seakan kepalanya mau lepas.
Ketika
obrolan kami makin liar dan tak terkendali, tiba-tiba dari arah lorong menuju
kantin sesosok mahasiswi yang bikin gue mati gaya berjalan menuju kantin.
Rambutnya yang ikal, nampak kecoklatan terkena matahari. Matanya yang bulat
menyipit, mungkin merasa silau karena sinar matahari, gue pikir gitu karena emang
hari ini panas terik. Bibirnya yang tipis tersenyum kecil kepada kawannya. Hari
itu dia mengenakan kaos hijau, celana jeans biru dongker dan sepatu kets.
Dengan langkah yang sedikit terburu-buru dia menuju koperasi. “Woi, ngapain
kamu?”, suara Aide merusak fantasi gue yang udah kemana-mana. “Hah? Itu si
Sisri..Cakep bener..Gila”, jawab gue tanpa menoleh. Secara ga diduga Sisri
berjalan menuju meja yang kami tempati. Kebetulan emang ada dua kursi kosong di
sebelah kami. Akankah dia duduk di situ?
To be
Continued....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar