Halaman

Cerita dalam blog ini bertujuan sebagai hiburan semata,dan tidak ada unsur menjelekan atau memanipulasi asal muasal tokoh pemeran utama dari cerita ini, dan jika ada kesamaan baik karakter atau lain sebagainya dan Jika ada hal yang menyinggung atau di anggap berlebihan dalam menempatkan karakter tokoh utama dalam cerita ini hanyalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja

Senin, 19 September 2011

Enji Musafir Playboy #2


      Aduh gimana dong, pikir gue panik. Gue celingak celinguk dengan tampang melas meminta pertolongan. Jo, temen sebelah gue cuma angkat bahu, tanda ga mudeng. Dengan panik gue menarik buku yang ada di meja Jo dan mulai membolak balik halamannya dengan cepat setengah berharap ada tulisan yang berbunyi, ‘Ini dia jawabannya!’.”Nah, ini dia contoh mahasiswa yang ga pernah memperhatikan kuliah. Ayo siapa yang bisa jawab?”, dosen itu berkata dengan nada mengejek. Mukanya yang culun tersenyum jahat sambil memamerkan gigi kuningnya. Satu jam terakhir kuliah itu rasanya kayak seharian. Gue terus melototin tu dosen. Bukan karena kuliahnya yang ngaujubilah ‘asiknya’ tapi gue dongkol banget sama mukanya. Rasanya pengen gue lempar sendal.
Akhirnya kuliah yang super duper ngebosenin itu berakhir dengan dengungan seisi kelas yang menunjukkan rasa lega. Tanpa buang waktu lagi gue langsung menyambar tas dan bergegas keluar. “Mau kemana, Ji?”, tiba-tiba Aide nongol di belakang gue. “Kantin”, jawab gue pendek. “Yok..”, sahutnya. Kamipun berjalan menuruni tangga dan tidak lama kemudian tiba di kantin. “Jo, kopi satu yang brownies ya”, kata gue sama penjaga koperasi yang kebetulan namanya Bejo. “Kamu pesen apa, De?”, tanya gue. “Sama, lah”, jawabnya. “Siap, pak!”, jawab Bejo yang seakan dapat komando dari komandannya. Kamipun memilih tempat duduk yang gak jauh dari Kopma. Kebetulan waktu itu kantin masih sepi. “Payah, tadi kenapa kamu ga bantuin aku sih?”, tanya gue setengah jengkel sama Aide. “Lha, wong aku juga gak ngerti kok”, jawab Aide dengan muka yang sedikit menunjukkan rasa menyesal. “Sial juga tu si dosen. Mukaku mau ditaruh mana coba?”, kata gue dengan jengkel. Aide cuma manggut-manggut seakan kepalanya mau lepas.
Ketika obrolan kami makin liar dan tak terkendali, tiba-tiba dari arah lorong menuju kantin sesosok mahasiswi yang bikin gue mati gaya berjalan menuju kantin. Rambutnya yang ikal, nampak kecoklatan terkena matahari. Matanya yang bulat menyipit, mungkin merasa silau karena sinar matahari, gue pikir gitu karena emang hari ini panas terik. Bibirnya yang tipis tersenyum kecil kepada kawannya. Hari itu dia mengenakan kaos hijau, celana jeans biru dongker dan sepatu kets. Dengan langkah yang sedikit terburu-buru dia menuju koperasi. “Woi, ngapain kamu?”, suara Aide merusak fantasi gue yang udah kemana-mana. “Hah? Itu si Sisri..Cakep bener..Gila”, jawab gue tanpa menoleh. Secara ga diduga Sisri berjalan menuju meja yang kami tempati. Kebetulan emang ada dua kursi kosong di sebelah kami. Akankah dia duduk di situ?

To be Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar