Halaman

Cerita dalam blog ini bertujuan sebagai hiburan semata,dan tidak ada unsur menjelekan atau memanipulasi asal muasal tokoh pemeran utama dari cerita ini, dan jika ada kesamaan baik karakter atau lain sebagainya dan Jika ada hal yang menyinggung atau di anggap berlebihan dalam menempatkan karakter tokoh utama dalam cerita ini hanyalah sebuah kebetulan yang tidak disengaja

Minggu, 18 September 2011

Enji Musafir Playboy #1


Cerita ini berawal ketika gue memutuskan untuk mengadu nasib ke Jogja. Nyokap berpesan katanya, “Nak, jaga diri baik-baik. Tuntut ilmu setinggi mungkin dan jangan suka mainin cewek nanti kamu sendiri kena getahnya”. Setelah itu berangkatlah gue ke Jogja dengan bus ekonomi, biar murah gitu. Sesampainya di sana gue langsung melesat ke kos-kosan yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan langsung tertidur pulas.
Keesokan harinya, ketika ayam masih tertidur pulas, tiba-tiba pintu terbuka dengan bunyi keras. Sesosok anak muda yang masih menggunakan helm dan jaket menyerbu masuk ke dalam kamar. Pemuda ini tingginya hampir sama kayak gue tapi agak lebih kurus. “Ayo berangkat kampus!”, katanya. Nada bicaranya medhok khas Jogja. “Bentar, De mau mandi dulu.”. Dengan malas gue ngambil anduk dan melangkah ke kamar mandi. Sumpah, rasanya berat bener ni kaki. Tak lama kemudian gue keluar kamar mandi dan berpakaian lengkap. Aide menunggu di halaman kos sambil ngelapin motor. Sambil menghampiri Aide, gue ngomong dengan malas, “Ayo berangkat”. Sesampainya di kampus sikap malas itu hilang sekejap. “Tuh, Sisri lagi jalan. Beh, cakep bener tu liat aja bodinya kayak gitar listrik”. Aide cuma geleng-geleng dengerin sobatnya nyerocos gitu. “Kenapa mesti gitar listrik?”, tanyanya. “Soalnya kalo di deket dia gue kayak kesetrum gitu rasanya”, jawab gue asal.
Sesampainya di kelas, dengan semangat gue mengambil tempat duduk paling belakang. Kenapa mesti paling belakang? Soalnya biar bisa tidur di kelas. Menurut gue ini mata kuliah yang paling tidak menarik. Dosennya orang hukum dan selalu ngoceh soal pasal-pasal yang gue gak ngerti. Dengan harapan besar akan memimpikan Sisri, gue pun meletakkan kepala di meja dan mulai terlelap. Tiba-tiba suara menggelegar dari depan kelas yang bikin gue langsung duduk tegap kayak disetrum. “Yak! Itu yang di belakang, yang mirip Afgan tolong jelaskan tentang Pancasila sebagai ruang lingkup pendidikan kewarganegaraan meliputi apa saja?”, tanya pak dosen dengan nada agak jengkel karena setengah jam kuliahnya ternyata hampir semua mahasiswa pasang tampang ngantuk. Cuma beberapa orang yang duduk di bangku depan yang duduk tegak memperhatikan. Entah karena tertarik dengan omongan dosennya atau tertarik dengan gigi emasnya yang ternyata bukan emas melainkan kekuning-kuningan. Mampus gue, dari tadi kan gue tidur, pikir gue panik. Terus gimana dong?

To be Continued....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar