Cerita
ini berawal ketika gue memutuskan untuk mengadu nasib ke Jogja. Nyokap berpesan
katanya, “Nak, jaga diri baik-baik. Tuntut ilmu setinggi mungkin dan jangan
suka mainin cewek nanti kamu sendiri kena getahnya”. Setelah itu berangkatlah
gue ke Jogja dengan bus ekonomi, biar murah gitu. Sesampainya di sana gue
langsung melesat ke kos-kosan yang sudah dipersiapkan sebelumnya dan langsung
tertidur pulas.
Keesokan
harinya, ketika ayam masih tertidur pulas, tiba-tiba pintu terbuka dengan bunyi
keras. Sesosok anak muda yang masih menggunakan helm dan jaket menyerbu masuk
ke dalam kamar. Pemuda ini tingginya hampir sama kayak gue tapi agak lebih
kurus. “Ayo berangkat kampus!”, katanya. Nada bicaranya medhok khas Jogja. “Bentar,
De mau mandi dulu.”. Dengan malas gue ngambil anduk dan melangkah ke kamar mandi.
Sumpah, rasanya berat bener ni kaki. Tak lama kemudian gue keluar kamar mandi
dan berpakaian lengkap. Aide menunggu di halaman kos sambil ngelapin motor. Sambil menghampiri Aide, gue ngomong dengan malas, “Ayo
berangkat”. Sesampainya di kampus sikap malas itu hilang sekejap.
“Tuh, Sisri lagi jalan. Beh, cakep bener tu liat aja bodinya kayak gitar
listrik”. Aide cuma geleng-geleng dengerin sobatnya nyerocos gitu. “Kenapa
mesti gitar listrik?”, tanyanya. “Soalnya kalo di deket dia gue kayak kesetrum
gitu rasanya”, jawab gue asal.
Sesampainya di kelas, dengan semangat gue
mengambil tempat duduk paling belakang. Kenapa mesti paling belakang? Soalnya
biar bisa tidur di kelas. Menurut gue ini mata kuliah yang paling tidak
menarik. Dosennya orang hukum dan selalu ngoceh soal pasal-pasal yang gue gak
ngerti. Dengan harapan besar akan memimpikan Sisri, gue pun meletakkan kepala
di meja dan mulai terlelap. Tiba-tiba suara menggelegar dari depan kelas yang
bikin gue langsung duduk tegap kayak disetrum. “Yak! Itu yang di belakang, yang
mirip Afgan tolong jelaskan tentang Pancasila sebagai ruang lingkup pendidikan
kewarganegaraan meliputi apa saja?”, tanya pak dosen dengan nada agak jengkel
karena setengah jam kuliahnya ternyata hampir semua mahasiswa pasang tampang
ngantuk. Cuma beberapa orang yang duduk di bangku depan yang duduk tegak
memperhatikan. Entah karena tertarik dengan omongan dosennya atau tertarik
dengan gigi emasnya yang ternyata bukan emas melainkan kekuning-kuningan.
Mampus gue, dari tadi kan gue tidur, pikir gue panik. Terus gimana dong?
To be Continued....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar